Selasa, 19 Mei 2026

BAHAYA SIFAT BERFOYA-FOYA, RIYA', DAN SUM'AH (STOP FLEXING!)

 


Halo semuanya. Coba deh jujur hari ini udah berapa kali kalian buka HP terus scroll medsos dan isinya orang pamer semua. Entah itu flexing outfit baru, liburan estetik atau sekedar kopi seharga makan siang kita. Kayaknya flexing udah jadi menu wajib ya. Tapi pernah kepikiran enggak sih apa impactnya ke mental dan spiritual kita? Nah, di bedah materi kali ini kita bakal kupas tuntas fenomena FOMO dan flexing ini dari kacamata pendidikan agama Islam khusus materi SMA kelas X.

Yuk, langsung aja kita bahas. Ngaku deh, pernah enggak sih kalian lagi gabut tiba-tiba impulsif check out keranjang belanjaan isi barang branded yang sebenarnya enggak kalian butuh-butuh amat? Terus alasannya apa coba? Cuma demi update story biar kelihatan kekinian atau takut dibilang ketinggalan zaman? FOMO kan ya? Secara kodrat manusia itu emang suka banget sama harta itu wajar.

Tapi kalau udah enggak terkontrol dan cuma nurutin gengsi, wah ini bahaya banget sih. Coba bayangin realita hidup kita sekarang. Di satu sisi kita dituntut buat terus-terusan pamer demi ngejar likes. Di sisi lain kita mikul beban dari kebiasaan belanja yang enggak ada habisnya. Capek enggak sih? Kebiasaan flexing harta, jajan mahal, pamer OTD demi validasi dunia maya itu aslinya melelahkan banget loh.

FYI aja nih, Islam tuh sebenarnya udah ngasih warming dari ribuan tahun lalu kalau gaya hidup foya-Foya itu salah kaprah. Ini bukan sekedar soal buang-buang duit ya, tapi soal mindset yang udah lumayan toxic. Nah, buat kebiasaan check out sembarangan ini, Islam punya istilah khususnya yaitu tabzir. Tabzir itu intinya pemborosan.

Ngeluarin harta buat hal-hal yang enggak hak atau literally nol manfaatnya. Gini deh, biarpun kalian cuma ngeluarin duit dikit, tapi kalau dipakainya buat hal yang dilarang agama atau sekedar buang-buang uang demi ngonten, itu udah masuk tabzir. Jadi, beli barang aneh-aneh yang endingnya cuma numpuk berdebu di pojokan kamar demi likes, fix itu Tabzir.

Terus ada satu lagi nih saudaranya namanya Israf. Beda cerita sama Tabzir. Israf ini tuh saat kalian beli atau ngeluarin uang buat hal yang sebenarnya sah-sah aja, boleh-boleh aja, tapi porsinya itu loh, wow overlimit. melampaui batas kepatutan. Contoh simpelnya, makan enak itu ya jelas boleh. Tapi kalau kalian pesan menu sampai 10 porsi cuma buat di-review terus ujung-ujungnya dibuang, nah itu dia yang namanya israf.

Islam ngelarang banget perilaku berlebihan ini karena biasanya dipicu sama godaan nafsu pas iman kita lagi goyah. Biar gampang dan enggak ketukar, rumus cepatnya gini. Tabzir itu salah sasaran. Kalau isras itu salah takaran. Mak sense kan? Dua-duanya sama-sama enggak disukai Allah karena cuma menghamburkan harta sia-sia dan nutup mata dari hak orang lain yang lebih butuh.

Bahkan nih ya di dalam Al-Qur'an orang yang boros itu secara terang-terangan disebut sebagai saudaranya setan. Merinding enggak tuh dengarnya? Terus life haack finansial ala Islam itu gimana dong biar selamat? Jawabannya ada di surah Al-Furqan ayat 67. Konsepnya tuh elegan banget. Jangan berlebihan tapi ya jangan pelit juga.

Ambil jalan tengahnya alias balance. Bersikap proporsional dan wajar pas ngeluarin uang itu adalah kunci utama supaya hidup kita nyaman, hati tentram, dan yang pasti dompet enggak nangis minta tolong di akhir bulan. Soalnya gini, kalau kita terus-terusan jadi budak nafsu foya-foya, impactnya itu ngeri banget.

Pertama, kita bakal terlalu sibuk ngejar standar dunia sampai lupa tujuan akhir kita, yaitu akhirat. Kedua, pamer sana sini itu otomatis bakal mancing rasa iri dan dengki alias hasad dari orang yang lihat. Ujung-ujungnya malah bikin drama di masyarakat dan bikin batin kita sendiri was-was, parno, hartanya habis. Si gaya hidup flexing itu enggak pernah ngebeli kebahagiaan.

Yang ada malah ngebeli anxiety. Tapi ironisnya nih, flot twist banget, penyakit flexing ini enggak cuma stop di urusan barang branded atau lifestyle duniawi aja. Flexing pelan-pelan nyusup ke area yang paling suci dalam hidup kita, yaitu ibadah. Dan guys, trust me, kalau flexing udah masuk ke urusan spiritual, bahayanya itu bisa berkali-kali lipat lebih ngeri dari sekedar ngabisin duit.

Kok bisa? Mari kita bongkar di bagian selanjutnya. Pasti kalian sering banget kan lihat fenomena insta story ibadah. Lagi sedekah, cekrek, lagi ngaji direkam, umrah dikit-dikit live. Niat awalnya sih emang ibadah, tapi di tengah jalan belok jadi cari validasi. melakukan ibadah seolah-olah cuma buat ngejar piala pujian dari followers atau nungguin komen, "Masyaallah, saleh banget sih.

" Nah, ini dia nih jebakan Batman spiritual di era digital yang sering enggak kita sadari. Dalam Islam, fenomena pamer ibadah ini punya nama spesifik ria. Secara bahasa artinya menampakkan atau memperlihatkan. Simpelnya gini. RI itu ibarat kalian ngelakuin ibadah dengan niat terselubung supaya dilihat, dipuji, atau dapat pengakuan dari manusia.

Contohnya, salatnya tiba-tiba khusyuk dan rajin banget pas lagi kumpul bareng keluarga besar atau sengaja bikin story lagi tahajud biar dilihat crush. Ayo, siapa yang pernah gini? Nah, kalau Ria itu urusannya sama visual atau apa yang dilihat mata, dia punya satu saudara kembar lagi nih namanya Sumah'ah. Sumah ini akar katanya dari mendengar.

Intinya kita sengaja cerita-cerita spill-spill soal amal kebaikan yang udah kita lakuin supaya orang lain dengar dan akhirnya kagum sama kita. Eh, tahu enggak, cuy? Kemarin gua habis nyumbang R juta lu ke panti. Nah, yang model begini nih namanya S'ah. Jadi, kelihatan ya bedanya ria itu fokusnya ke seeing atau mastiin orang melihat amal kita.

Sementara sumah itu fokusnya ke heing. Mastiin orang mendengar kebaikan kita. Tapi ujung-ujungnya dua-duanya ini sama-sama penyakit hati yang super toksik. Kenapa? Karena nyari panggungnya di mata manusia bukan di hadapan Allah. bikin kita cuma semangat beramal pas lagi ada kamera atau pas lagi ada audience doang. Dan yang bikin merinding Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tuh ngasih peringatan keras banget soal ini.

Beliau melabeli riya sebagai syirik hofi alias syirik yang samar, syirik yang tersembunyi. Kenapa coba? Karena tanpa sadar pas kita lagi ria, kita lagi nyekutuin Allah di dalam hati kita sendiri. Kita ngegeser posisi Allah dan ngegantinya sama keinginan buat dapat likes, views, dan pujian dari manusia. Hati-hati banget loh, manusia bisa digibulin, tapi isi hati kita cuma Allah yang tahu persis.

Terus apa coba yang kita dapat dari hasil capek-capek pamer ibadah ini? Jawabannya nol, besar. Alias zong, riya, dan sumah itu kayak virus yang secara instan bakal ngghapus semua pahala kebaikan kita sampai enggak berbekas. Bayangin udah capek ngeluarin tenaga atau harta eh sia-sia di mata Allah.

Enggak cuma itu, mental kita juga kena. bawaannya gelisah mulu. Mood gampang hancur cuma gara-gara postingannya sepi likes atau enggak ada yang muji. Rugi bandar banget kan? Oke, oke, tenang. Sekarang kita masuk ke solusinya. Gimana sih cara ng-edetoks hati kita dari virus house validasi ini? Ada tiga step praktis yang bisa langsung kita eksekusi. Pertama, luruskan niat.

Riset lagi. Niatin semuanya murni cuma buat Allah. Kedua, sadar posisi. Kita ini cuma hamba, Guys. Semua harta, semua kesempatan buat beramal itu murni pemberian dari Allah. Bukan karena kita hebat, jadi ngapain sombong. Dan ketiga, ini yang paling menantang. Belajarlah menyembunyikan amal kebaikan kalian serapat kalian menyembunyikan aib dan dosa kalian.

Daripada hidup capek penuh drama flexing, mending kita beralih ke gaya hidup yang jauh lebih damai. Hidup sederhana. Hidup yang grounded apa adanya. Humble, dan benar-benar peduli sama orang sekitar. Orang yang sederhana itu amalnya jauh lebih ikhlas. Dipuji dia enggak perbang, dicaci dia enggak tumbang. Coba deh rasain. Hati dan pikiran itu bakal kerasa lega banget dibanding mereka yang 24 jam pusing mikirin fit media sosial.

Dan rahasia paling ampuh biar mental kita enggak gampang kena FOMO itu cuma satu kata, bersyukur. Menariknya, syukur itu ada level-levelnya loh. Level pertama, syukur bilqalb atau dalam hati, yaitu kita beneran dan yakin semua nikmat itu dari Allah. Terus level kedua, syukur bilisan. Rajin-rajin ngucap alhamdulillah biar lisan terbiasa sama hal positif.

Dan level pamungkasnya syukur bil arkan alias lewat tindakan. Buktikan rasa syukur itu dengan pakai harta sesuai fungsinya, bukan malah dihamburkan buat maksiat atau sekedar flexing receh. Jadi, dari semua bedah materi kita tadi, benang merahnya itu ada di konsep hidup manfaat. Kunci buat nyampai ke sana ya kita harus punya sifat tawadu alias rendah hati.

Kita harus aktif ngeblok sifat-sifat redflex kayak foya-foya, riya, sumah, takabur, dan hasad. Menghindari ini semua itu ibarat masang firewall buat amalan kita supaya hidup kita tetap berkah, tenang, dan jauh dari yang namanya kegelisahan. Sebagai penutup di sesi kita kali ini, aku mau ninggalin satu pertanyaan yang lumayan bikin mikir buat kalian renungin.

Nanti sebelum kalian nek tombol pos buat ambir barang belanjaan apao pas mau upload foto lagi ngelakuin kebaikan, coba pause sebentar. Tanya jujur kelubuk hati paling dalam. Untuk siapa sih kalian sebenarnya ngelakuin ini? buat ngejar rida Allah atau sekedar ng-mislik dari manusia. Pikirin baik-baik ya. Semoga pembahasan kita hari ini bisa bikin kita jadi muslim yang lebih tulus.

Sampai jumpa di bedah materi seru berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar